Jumat, 05 Oktober 2012

Pantaskah Aku menjadi seorang Kakak?

Aku meliahat Nia adikku sedang termenung di depan jendela kamarnya. Aku tau dia sedang memiliki masalah. Di balik sifatnya yang ceria aku yakin bahwa dia membutuhkan sesorang untuk bersandar. Untuk mengadu keluh kesahnya. Ingin memiliki seseorang yang bisa mendengar keluhannya. Berharap bahwa seseorang itu dapat memberikan saran, setidaknya membuatnya lebih baik. Aku tau itu, karena akupun merasakan hal yang sama. Mungkin aku baru menyadari semua ini.

Perbeadan aku dan adikku adalah aku terbiasa sendiri, terbiasa memendam keluh kesahku sendiri. Karean aku berfikir ini tidaklah penting bagi orang lain, cukup aku yang tau, karean aku yang sedang menjalani hal ini. Tapi setelah 18 tahun aku baru sadar, bahwa aku membutuhkan seseorang yang bisa aku percaya. Yang mau mendengar keluhanku. tak perduli dia memberika saran atau tidak. Yang aku butuhkan dia hanya menjadi pendengar yang baik. Bagiku itu sudah cukup. Tapi adikku dia membutuhkan seseorang yang bisa memberikannya saran. Agar dia tau apa yang harus dia lakukan dikondisinya sekarang ini. Ingin rasanya aku bilang pdanya "Kamu kenapa? Cerita sama kakak. Siapa tau kakak bisa bantu dan membuatmu lebih baik" dan bilang "Sabar, hidup ini memang tak mudah dijalani. Tapi kakak yakin bahwa kamu bisa menyelsaikannya" dan yang paling ingin aku katakan padanya "Kakak selau ada di sampingmu. Jangan takut untuk melangkah".

Sebelumnya aku juga hampir sering melihat SMSnya. Atau note yang ada di Handphonennya. Dan sebagian besar yang dia tuliskan disitu dia mengeluh, ingin memiliki seseorang yang selalu mendengarkan keluhannya. Dan aku bukannya tak ingin menjadi kakak sekaligus teman curhatnya. Tapi aku tak mampu melalukan itu. Aku tak tau, aku harus memualai ini dari mana. Aku bukanlah tipe orang yang bisa mempublikasikan rasa sayangku pada seseorang, terutama pada keluargaku. Aku harap, suatu saat nanti aku dapat melakukan semua hal itu.

@dinahaqf